find us on : | Online : 5 | Today : 50 | Hits : 220 | Total Visitor : 336268
, 00 0000 - 00:00:00 WIB
Pantang Menyerah dan Putus Asa
by : EM | Kategori: Spritual | Dibaca: 17567 kali

“Saya sudah berusaha, tapi mentok lagi-mentok lagi. Gimana nih?”

 

Ya, terus berusaha. Cari jalan lain. Asalkan tidak putus asa, insya Allah akan menemukan jalan lain. Ketika satu jalan tertutup, yakinlah Allah telah membuka jalan-jalan lain yang lebih baik.

 

Kita bisa belajar dari Siti Hajar tentang kesungguhan atau lebih kerennya persistensi.

 

Suatu ketika Nabi Ibrahim as. diperintahkan oleh Allah untuk membawa Siti Hajar dan Ismail ke sebuah padang pasir yang gersang dan meninggalkannya di sana untuk jangka waktu tertentu sebagai ujian bagi Siti Hajar dan anaknya, Ismail.

 

Sebagai orang beriman dan istri salehah, Siti Hajar tidak menggugat keputusan suaminya karena ia meyakini Allah pasti senantiasa menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya. Pasti ada hikmah yang besar dibalik perintah Allah tersebut.SitiHajarpun ditinggalkan olehNabiIbrahimas. Kini, ia hanya berdua dengan anaknya, Ismail, yang masih bayi.

 

Suatu saat, Ismail merasakan kehausan.SitiHajarberusaha untuk menyusuinya, tapi tiba-tiba air susunya kering. Kemudian, Siti Hajar berusaha sekuat tenaga mencari air untuk anaknya. Ia berlari bolak-balik ke bukit Shafa dan Marwa,  namun tidak juga menemukan air. Tetapi, Siti Hajar tidak berhenti dan menyerah. Ia terus berusaha mencari air dengan seluruh kemampuannya.

 

Akhirnya, Allah memberikan pertolongan-Nya.SitiHajartelah lulus ujian. Dari hentakan kaki Ismail keluarlah air. Kemudian, Siti Hajar berucap, “Zamzam-zamzam”, yang artinya berkumpul-berkumpul. Maka, jadilah sumber mata air yang kini kita kenal dengan nama sumur zamzam yang airnya tak pernah kering. Tahukah Anda tempat Siti Hajar dan Ismail tersebut itulah yang sekarang kita kenal sebagai kota Mekah Al-Mukaramah. 

 

Kisah Siti Hajar di atas memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Upaya Siti Hajar yang tak kenal menyerah dan putus asa dalam mencari air untuk anaknya melambangkan suatu sikap persistensi (keteguhan hati). Keteguhan hati disertai niat yang tulus karena Allah semata telah mendorong Siti  Hajaruntuk terus berjuang mencari air di tengah pada pasir yang gersang.  

 

Lantas, ketika Siti Hajar seorang diri di tengah padang pasir, apa yang diyakininya? Apa cahaya harapan itu? Itulah cahaya Allah. Cahaya hidayah yang terang benderang. Inilah esensi dari pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Siti Hajar.          

 

Ketika kita telah memiliki keyakinan yang total kepada Allah, maka jangan khawatir dan jangan pula bersedih hati ketika menghadapi setiap tantangan dan rintangan dalam hidup ini. Segalanya ada dalam genggaman Allah, maka teramat mudah bagi Allah untuk menghilangkan tantangan dan rintangan tersebut. Yakinlah innallaha ma’ana (Allah bersama kita).

 

Tidak ada yang sia-sia jika kita melakukannya secara tulus karena Allah semata. Kewajiban manusia adalah terus berusaha tanpa kenal putus asa. Niscaya Allah akan memberikan “air zamzam” sebagai simbol rezeki yang berkah, kemenangan, dan kebahagiaan.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memeroleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fushilat [41]: 30).

 

Rumus Anti Mentok:

  • Yakini ketika satu jalan tertutup, ada jalan-jalan lain yang terbuka.
  • Terus berusaha dan jangan berhenti.

 

 Sumber: Buku "Menjadi Muslim Milyarder" karya @AnangSujana






Iklan Baris Belajar bisnis BUSANA MUSLIMAH 2juta dapat harga grosir, PIN 274FC9E6 / 085692305041 / 02196990678

Di Jual Rumah Ada 2 unit luas 120m2 tingkat 2 lantai, 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, 550jta perunit



Artikel Terkait


Komentar :



Isi Komentar

Klik untuk menampilkan Form Komentar