find us on : | Online : 2 | Today : 30 | Hits : 65 | Total Visitor : 342134
Senin, 26 Mei 2014 - 07:07:07 WIB
Beban Hutang
by : NC | Kategori: Spritual | Dibaca: 2001 kali

Beratnya Beban Si Pengutang


Bu Mar (bukan nama sebenarnya) seorang janda yang hidupnya sungguh sederhana. Ia tinggal bersama anak bungsunya yang masih sekolah. Ketiga anaknya yang lain sudah berumah tangga dan tinggal di tempat lain dengan kehidupan yang tak kalah sulitnya.

Bu Mar dikenal orang karena sering dimintai tolong mencarikan ART (Asisten Rumah Tangga). Ia juga dikenal sebagai orang yang gemar berhutang. Datang ke rumah si A, meminjam uang untuk menutupi hutangnya ke si B. Datang lagi ke rumah X dengan maksud yang sama, berhutang. Gali lubang, tutup lubang. Janjinya selalu manis, "Besok, kalau Bu C kasih uang komisi saya, pasti saya langsung bayar."

Sayangnya, kehidupan memaksanya untuk terus berhutang. Kadangkala orang yang meminjamkan uang sampai harus berkali-kali datang menagih uangnya. Bukan tak jarang ada juga orang yang sampai memaki-maki Bu Mar karena lalai membayar hutang.

Bu Mar pun jatuh sakit. Deritanya ia simpan sendiri. Anak-anaknya tidak ada yang tahu kesulitannya. Sampai akhirnya di suatu malam, bu Mar mengembuskan napasnya yang terakhir, meninggalkan si bungsu yang berkali-kali pingsan, dan hutang di mana-mana.

Di antara para pelayat, bu D memasang muka cemberut. Saat ditanya oleh bu E, bu D hanya menjawab, "Orang itu belum bayar hutangnya ke saya." Sementara yang lainnya sudah mengikhlaskan uangnya dibawa mati Bu Mar, tapi tidak dengan bu D.

Malam ketiga setelah kematian Bu Mar, pintu rumah bu D ada yang mengetuk. Sudah lewat Isya', tadinya bu D berniat langsung tidur. Dibukanya pintu lebar-lebar.

Di hadapannya, bu Mar berdiri dengan wajah pucat. Tangannya mengulur, menuerahkan sesuatu ke dalam genggaman bu D.

"Saya mau bayar hutang," katanya.

Bu D terkejut. Ketika genggamannya terbuka, ada segumpal kapas, sementara bu Mar sudah lenyap dari pandangannya.

Kisah di atas, tak bisa diyakini kebenarannya. Namun, hutang memang akan memberatkan jalan si mayit menuju surga.

Dari Abu Hurairah, ra, Rasulullah SAW. bersabda, "Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya, hingga dia melunasinya." (HR. Tirmidzi). Dosa hutang juga tak akan erhapus meskipun ia mati syahid.

Karena itulah Rasulullah menganjurkan agar kita berlindung dari hutang.
Allahumma inni a'uudzubika minal ma'tsami wal maghram
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan dosa dan banyak hutang. Aamiin.






Iklan Baris Expidisi di sungai mahakam pengankutan barang atau sejenisnya Memberikan Pelayanan yg terbaik.

Bisnis syariah All payment berbasis teknologi



Artikel Terkait


Komentar :



Isi Komentar

Klik untuk menampilkan Form Komentar